Rabu, 06 Maret 2013

Sejarah Lahirnya Psikolinguistik

Psikolinguistik merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikoogi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkalan psikolog Jerman Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang "ilmiah".

Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik, realita, dan ilmu kognitif.

a. Tahap Formatif
Pertengahan abad kedua puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.

b. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures,  dan kritik tajam dari Chomsky terhadap behavioristik B.F. Skinner telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini semakin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa, khususnya pertanyaan "mengapa anak di manapun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama".

Kesamaan dalam strategi ini didukung juga oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.

Keterkaitan neurobiologi mendukung pandangan Chomsky yang mengatakan bahsa pertumbuhan bahasa pada manusia terprogram secara genetik. Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Ketidakberhasilan semua penelitian ini membuktikan bahsa pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia.

c. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. pmerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnaya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.

Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tidak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat diganti dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.

Pada tahap ini orang juga mulai bicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennerberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologisnya.

d. Tahap Teori Psikolinguistik
 Pada tahap akhir ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.

Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahil manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof - apa pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.

Dengan kata lain, psikolinguistik kini telah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu lain.

Sumber: Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.



0 komentar:

Poskan Komentar