Rabu, 06 Maret 2013

Sejarah Lahirnya Pragmatik

Dulu, catatan-catatan kebahasaan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa sehari-hari (yang dikaji dalam pragmatik) cenderung disingkirkan oleh para ahli bahasa dan ahli filsafat. Catatan-catatan itu semula tidak ditata di bawah satu kategori tunggal. Isi tersebut didefinisikan secara negatif, sebagai bahan yang tidak mudah ditangani dalam sistem-sistem analisis resmi. Namun, manusia tidak dapat memungkiri bahwa analisis-analisis bahasa secara struktural saja belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok mengenai struktur bahasa sehari-hari yang seringnya tidak sesuai dengan struktur di dalam teori, selain itu bentukan kalimat yang dianggap benar menurut kajian bahasa secara struktural ternyata dalam studi makna kalimat tersebut tidak dapat diterima. Sederhananya, pragmatik ada untuk melengkapi kajian bahasa dalam tataran sintaksis dan semantik.

Secara lebih jelas, alasan kajian ilmu bahasa dalam tataran sintaksis hanya mengkaji bahasa berdasarkan struktur dalamnya, tanpa memperhatikan makna kalimat. 
contoh:
(1) Ibu membeli buku di toko buku.

Kalimat tersebut  secara struktur sudah benar, yaitu terdiri atas subjek (Ibu) yang berkategori nomina, predikat (membeli) yang berkategori verba, objek (buku) yang berkategori nomina, keterangan tempat (di toko buku). Bandingkan dengan contoh kalimat (2).

(2) Botol membeli buku di toko buku.

Secara struktur, kalimat (2) sudah benar karena kalimat tersebut sudah mencakup subjek (botol) yang berkategori nomina, predikat (membeli) yang berkategori verba, objek (buku) yang berkategori nomina, dan keterangan (di perpustakaan). Tentu kalimat tersebut tidak dapat kita terima karena botol merupakan benda mati yang tidak dapat melakukan suatu pekerjaan. Ketidakberterimaan tersebut dapat dijelaskan di dalam ilmu semantik, yaitu bahwa subjek Ibu di dalam kalimat (1) memiliki fitur-fitur distingtif salah satunya adalah [+insani], sedangkan botol memiliki fitur distingtif [-insani] sehingga kata tersebut tidak bisa digunakan untuk menggantikan kata Ibu di dalam kalimat (1). Kata-kata yang dapat menggantikan kata Ibu adalah kata-kata yang juga memiliki fitur distingtif [+insani], seperti Bapak, Dian, Mereka, dan lain-lain.
Selanjutnya, karena dalam penggunaan bahasa sehari-hari ternyata kadang manusia menggunakan kalimat-kalimat yang jika dianalisis secara semantik tidak dapat diterima. Misalnya dalam percakapan (3).

(3) A: Kamu sudah makan?
     B: Itu ada makanan di meja.

Secara semantik, tuturan A dan B tidak dapat diterima, sebab pertanyaan A hanya membutuhkan jawaban sudah atau belum. Permasalahan-permasalahan seperti ini, yang tidak dapat dijelaskan dengan ilmu sintaksis dan semantik ternyata dapat dijawab oleh ilmu pragmatik. Dalam percakapan tersebut, penutur B paham bahwa maksud dari pertanyaan A adalah dia mau mengajak B makan (mungkin), atau kalimat itu memiliki maksud bahwa penutur A lapar (mungkin), sehingga jawaban sudah atau belum tidaklah dibutuhkan A dalam konteks ini. Maka dari itulah B mengatakan bahwa di meja ada makanan yang boleh dimakan oleh A. Jawaban seperti B lebih dibutuhkan oleh A. 
Itu merupakan contoh kecil mengapa ilmu pragmatik ini akhirnya dikembangkan oleh para ahli bahasa.

0 komentar:

Poskan Komentar