Sabtu, 02 Maret 2013

Bahasa sebagai Sistem

Dalam kaitan dengan keilmuan, sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Sistem dibentuk oleh sejumlah unsur atau komponen yang satu dengan yang lain dan berhubungan secara fungsional.

Bahasa sebagai sistem artinya bahasa terdiri atas unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan. Kalau kita perhatikan dua deretan kata berikut:

1. Kucing itu melompat ke meja.
2. Kucinglah melompat itu ke meja.

secara intuisi kita sebagai penutur bahasa Indonesia akan tahu bahwa deretan 1 adalah kalimat bahasa Indonesia karena tersusun dengan benar menurut aturan kaidah bahasa Indonesia. Sebaliknya, deretan 2 bukan kalimat bahasa Indonesia karena tidak tersusun menurut pola aturan atau sistem bahasa Indonesia. 

Pola-pola sistem dapat dipelajari. Karena itu kita akan tahu kalau sudah kita pelajari, apakah suatu deretan kata adalah kalimat bahasa Indonesia atau bukan.

Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis maksudnya bahasa tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sedangkan sistemis artinya bahasa bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri atas sub-subsistem atau sistem bawahan. sebagai contoh adalah subsistem fonologi, morfolofi, sintaksis, dan semantik. 

Subsistem di dalam bahasa tersusun secara herarkial. Artinya subsistem yang satu terletak di bawah  subsistem yang lain, lalu subsistem yang lain itu terletak pula di bawah subsistem yang lain lagi. Subsistem fonologi, morfolofi, dan sintaksis terkait dengan subsistem semantik, sedangkan subsistem leksikon yang juga diliputi subsistem semantik berada di luar ketiga subsistem struktural itu.

Jenjang subsistem di dalam linguistik dikenal dengan nama tataran linguistik atau tataran bahasa. Jika diurutkan dari tataran terendah sampai tertinggi, dalam hal ini yang menyangkut ketiga subsistem struktural di atas adalah tataran fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Tataran fonem masuk dalam bidang kajian fonologi, tataran morfem masuk ke dalam kajian morfologi, tataran frase, klausa, kalimat, dan wacana masuk dalam bidang kajian sintaksis. Dalam morfologi, kata menjadi satuan terbesar, sedangkan dalam sintaksis menjadi satuan terkecil. Dalam kajian morfologi, kata dikkaji struktur dan proses pembentukannya, sedangkan dalam sintaksis dikaji sebagai unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar.

Perlu dicatata pula, kajian linguistik dibagi dalam beberapa tataran, yaitu tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikon. Tataran morfologi digabung dengan tataran sintaksis menjadi tataran gramatika atau tata bahasa. Di atas semua itu ada tataran pragmatik, yaitu kajian yang mempelajari penggunaan bahasa dengan pelbagai aspeknya, sebagai sarana komunikasi verbal bagi manusia.

sumber: Linguistik Umum terbitan Rineka Cipta (Abdul Chaer)

0 komentar:

Poskan Komentar