Selasa, 21 Januari 2014

Klasifikasi Bunyi Bahasa: Nasal dan Oral

sumber: http://www.infovisual.info/03/053_en.html
Bunyi bahasa dapat dibedakan menjadi nasal (sengau) dan oral. Pembedaan ini didasarkan pada keluarnya atau disertainya udara melalui rongga hidung. Jika udara keluar atau disertai keluarnya udara melalui rongga hidung, dengan cara menurunkan langit-langit lunak beserta ujung anak tekaknya maka bunyi itu disebut bunyi nasal atau sengau. Jika tidak demikian, karena langit-langit lunak beserta ujung anak tekak menaik menutupi rongga hidung sehingga udara hanya melalui rongga mulut saja maka bunyi yang dihasilkan disebut bunyi oral. Oleh karena itu, vokal sering dibedakan menjadi vokal nasal dan vokal oral. Vokal nasal banyak terdapat dalam bahasa aceh dan prancis. Konsonan juga dibedakan atas konsonan nasal seperti [m, n] dan konsonan oral seperti [p, b, k, g, t, d].

Sumber: Marsono. 1999. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Macam-Macam Afasia

sumber gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Area_Broca

Ada berbagai macam afasia, bergantung pada daerah mana hemisfer kita yang terkena stroke. Berikut adalah beberapa macam yang umum ditemukan (Kaplan, 1994: 1035)

Afasia Broca: kerusakan (yang umumnya disebut lesion) terjadi pada daerah broca. Karena daerah ini berdekatan dengan daerah korteks motor maka yang sering terjadi adalah alat-alat ujaran termasuk bentuk mulut menjadi terganggu. Kadang-kadang mulut bisa mencong. Afasia broca menyebabkan gangguan pada perencanaan dan pengungkapan ujaran. Kalimat-kalimat yang diproduksi terpatah-patah. Karena alat penyuara juga terganggu maka sering kali lafalnya juga tidak jelas. Kata-kata dari kategori sintaktik utama seperti nomina, verba, dan adjektiva tidak terganggu, tetapi pasien kesukaran dengan kata-kata fungsi. Pasien bisa mengingat dan mengucap nomina bee atau nomina witch, tetapi dia kesukaran mengingat dan mengatakan be atau wich. Kalimat-kalimatnya juga banyak yang tanpa infleksi atau afiks.

Afasia Wernicke: Letak kerusakan adalah di daerah wernicke, yakni bagian agak ke belakang dari lobe temporal. Korteks-korteks lain yang berdekatan juga bisa ikut terkena. Penderita afasia ini lancar dalam berbicara. Bentuk sintaksisnya juga cukup baik. Hanya saja, kalimat-kalimatnya sukar dimengerti karena banyak kata yang tidak cocok maknanya dengan kata-kata lain sebelum dan sesudahnya. Hal ini disebabkan karena penderita afasia ini sering keliru dalam memilih kata-kata fair bisa diganti dengan chair, carrot bisa diganti dengan cabbage, dsb. Penderita afasia wernicke juga mengalami gangguan dalam komprehensi lisan. Dia tidak mudah dapat memahami apa yang kita katakan.

Afasia Anomik: Kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobe parietal atau pada batas antara lobe parietal dengan lobe temporal. Gangguan wicaranya tampak pada ketidakmampuan penderita untuk mengaitkan konsep dan bunyi atau kata yang mewakilinya. Jadi, kalau kepada pasien ini diminta untuk mengambil benda yang bernama gunting, dia akan bisa melakukannya. Akan tetapi, kalau kepadanya ditunjukkan gunting, dia tidak akan bisa mengatakan nama benda itu.

Afasia Global: pada afasia ini kerusakan terjadi tidak pada satu atau dua daerah saja, melainkan di beberapa daerah yang lain. Kerusakan bisa menyebar dari daerah broca, melewati korteks motor, menuju ke lobe parietal, dan sampai ke daerah wernicke. Luka yang sangat luas ini tentunya mengakibatkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar. Dari segi fisik, penderita bisa lumpuh di sebelah kanan, mulut bisa mencong, dan lidah bisa menjadi tidak cukup fleksibel. Dari segi verbal, dia bisa kesukaran memahami ujaran orang, ujarannya tidak mudah dimengerti orang, dan kata-katanya tidak diucapkan dengan cukup jelas.

Afasia konduksi: bagian orak yang rusak pada afasia macam ini adalah fiber-fiber yang ada pada fasikulus arkuat yang menghubungkan lobe frontal dengan lobe temporal. Karena hubungan daerah broca di lobe frontal yang menangani produksi dengan daerah wernicke di lobe temporal yang menangani komprehensi terputus maka pasien afasia kondusi tidak dapat mengulang kata yang baru saja diberikan kepadanya. Dia dapat memahami apa yang dikatakan orang. Misalnya dia akan dapat mengambil pena yang terletak di meja kalau disuruh demikian. Dia juga akan dapat berkata, "Pena itu di meja" tetapi dia tidak akan dapat menjawab secara lisan pertanyaan, "Di mana penanya?" Bisa terjadi dia ditanya tentang A, yang dijawab adalah tentang B atau C.

lebih lengkap tentang afasia dan gangguan bahasa berkaitan dengan fungsi otak bisa dibaca di sumber: Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Minggu, 19 Januari 2014

IMPLEMENTASI PSIKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MENULIS



Oleh: Adityarini Kusumaningtyas (2101410001): Psikolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia dalam berbahasa (Dardjowidjojo, 2005). Berkaitan dengan proses-proses mental tersebut, Chaer (2003: 6) mengatakan bahwa psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Dalam praktiknya psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada masalah-masalah praktis, salah satunya pada masalah-masalah pembelajaran bahasa.

Skizofrenia

sumber gambar: http://doktersehat.com/skizofrenia/

Skizofrenia adalah penyakit jiwa yang umum terjadi. Royal College of Psychiatrists di Inggris melaporkan bahwa satu orang di antara 100 orang mengembangkan skizofrenia pada suatu saat pada hidupnya. Wu dkk. (2006) menggunakan beberapa database klaim administratif untuk mengkalkulasi prevalensi tahunan skizofrenia yang terdiagnosis di Amerika Serikat. Para peneliti ini melaporkan bahwa pada tahun 2002 prevalensi dua belas bulan skizofrenia yang terdiagnosis diperkirakan sebesar 5,1 per 1000 jiwa. Angka kejadian skizofrenia jauh lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan. McGrath (2006) melaporkan rasio laki-laki dan perempuan 1:4. Angka kejadian skizofrenia juga lebih tinggi pada para migran dan orang-orang yang tinggal di perkotaan (McGrath, 2006). Usia pada permulaan terjangkitnya penyakit ini juga berbeda-beda antara laki-laki dan perempuan, dengan laki-laki biasanya mengembangkan skizofrenia lebih awal daripada perempuan.

Jumat, 14 Juni 2013

Presupposisi/Praanggapan

Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat. Dalam beberapa pembahasan tentang konsep, presupposisi dibicarakan sebagai hubungan antara dua proposisi.

Jika kita mengatakan bahwa kalimat (1) mengandung proposisi p dan kalimat (2) mengandung proposisi q, maka dengan menggunakan simbol >> yang berarti "yang dipraanggapkan", kita dapat menggambarkan hubungan itu seperti dalam (3)

(1)  Anjing Mary itu cantik                  (=p)
(2) Mary mempunyai seekor anjing     (=q)
(3) p >> q yang artinya kalimat "Anjing Mary itu cantik) dipraanggapkan "Mary mempunyai seekor anjing".

Apabila kalimat (1) diubah menjadi kalimat negatif seperti pada kalimat (1a), kita akan melihat bahwa hubungan presupposisi tidak berubah. Yaitu diulang seperti (2a), proposisi q yang sama berlanjut dipresupposisikan oleh TIDAK p, sebagaimana ditunjukkan dalam (3a).

(1a) Anjing Mary tidak cantik           (TIDAK p)
(2a) Mary mempunyai seekor anjing (=q)
(3a) TIDAK p >> q yang artinya kalimat "Anjing Mary tidak cantik" dipraanggapkan "mary mempunyai seekor anjing)

Anjing Mary cantik memiliki praanggapan bahwa Mary mempunyai anjing, kalimat Anjing Mary tidak cantik juga memiliki praanggapan bahwa Mary mempunyai anjing

Sifat presupposisi ini biasanya dijelaskan sebagai keajegan di bawah penyangkalan. Pada dasarnya, keajegan di bawah penyangkalan berarti bahwa presupposisi suatu pernyataan akan tetap ajeg (yakni: tetap benar) meskipun kalimat pernyataan itu dijadikan menyangkal.
Contoh lain:
(1b) Setip orang tahu bahwa John itu seorang 'gay'                (=p)
(2b)  Tidak semua orang tahu bahwa John itu seorang 'gay'   (=TIDAK p)
(3b) John itu seorang 'gay'                                                       (=q)
(4b) p >> q dan TIDAK p >> q

Walaupun kedua penutur tidak sepakat tentang validitas p (yang terdapat dalam pernyataan (1b), keduanya mengasumsikan kebenaran q (3b) yaitu bahwa John seorang 'gay' pada waktu membuat pernyataan mereka. Proposisi q, seperti ditunjukkan  (4b) dipresupposisikan oleh p dan TIDAK p keduanya, masih ajeg di bawah penyangkalan.


Rujukan: Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baca Juga: Praanggapan dan Entailmen

Senin, 27 Mei 2013

Bahasa Itu Arbitrer

Kata Arbitrer bisa diartikan 'sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka'. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Umpamanya, antara [kuda] dengan yang dilambangkannya yaitu "sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai". Kita tidak dapat menjelaskan mengapa binatang tersebut dilambangkan dengan bunyi [kuda]. Mengapa, misalnya bukan [aduk] atau [akud] atau lambang yang lainnya. Begitu juga, kita tidak dapat menjelaskan hubungan antara lambang bunyi [air] dengan benda yang dilambangkannya, yaitu "barang cair yang biasa dipakai untuk minum, mandi, atau memasak", yang rumus kimianya H2O. Mengapa bukan dilambangkan dengan bunyi [ria] atau [ari]. tidak bisa dijelaskan karena sifat arbitrer itu.

Ferdinand de Saussure (1966:67) dalam dikotominya membedakan apa yang disebut signifiant (Inggris: signifier) dan signifie (Inggris: signified). Signifiant adalah lambang bunyi iyu, sedangkan signifie adalah konsep yang dikandung oleh signifiant. Dalam peristilahan Indonesia dewasa ini ada digunakan istilah penanda untuk lambang bunyi atau signifiant dan istilah petanda untuk konsep yang dikandungnya, atau diwakili oleh penanda tersebut. Hubungan antara signifiant dan signifie itulah yang bersifat arbitrer. Lambang yang berupa bunyi itu tidak memberi "saran" atau "petunjuk" apapun untuk mengenal konsep yang diwakilinya. Tidak adanya hubungan antara signifiant dan signifie menyebabkan Bolinger (1975:22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu suatu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar karena bunyi kata tersebut tidak memberi "saran" atau "petunjuk" apapun untuk mengetahui maknanya.

Apabila ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya, tentu lambang yang dalam bahasa Indonesia berbunyi [kuda], akan disebut juga [kuda] oleh orang di klaten, bukannya [jaran]. Di Inggris orang juga akan menyebut [kuda] dan bukannya <horse>; begitu juga di negara lain. Lalu andaikata ada hubungan wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya maka di bumi ini tidak akan ada bermacam-macam bahasa. Tentu hanya ada satu bahasa yang meskipun mungkin berbeda tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak.

Memang ada juga yang berpendapat bahwa ada sejumlah kata dalam bahasa apapun yang lambangnya berasal dari bunyi benda yang diwakilinya. Misalnya lambang [meong] dalam bahasa Indonesia, yang mempunyai hubungan dengan konsep yang dilambangkannya, yaitu sejenis binatang buas yang bunyinya [meong]; atau lambang bunyi [cecak] yang mempunyau hubungan dengan konsep yang dilambangkannya, yaitu sejenis reptil yang bunyinya [cak, cak, cak]. Jadi, di sini kata-kata yang disebut onomatope (kata yang berasal dari tiruan bunyi) ini lambangnya memberi "saran" atau "petunjuk" bagi konsep yang dilambangkannya. Kalau begitu dapat dikatakan hubungan antara lambang dengan konsep yang dilambangkannya tidak bersifat arbitrer. Karena paling tidak ada "saran" bunyi yang menyatakan hubungan itu.

Namun kalau diteliti lebih jauh, yang disebut onomatope ini pun ternyata tidak persis sama antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Bunyi ayam jantan yang dalam bahasa Indonesia dan dialek Jakarta berbunyi [kukuruyuk] ternyata dalam bahasa Sunda berbunyi [kongkorongok].

Kalau titanya, mengapa bunyi benda yang sama terdengar berbeda oleh dua penutur bahasa yang berlainan, agak sukarlah menjawabnya. Mungkin juga sebagai akibat kearbitreran bahasa itu atau juga karena sistem bunyi bahasa-bahasa itu tidak sama.

Sumber: Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kamis, 23 Mei 2013

Sistem Komunikasi Hewan (Lumba-Lumba)

sumber gambar: http://wisatabali.org/lovina-tour
Penelitian terhadap alat komunikasi lumba-lumba (dolfin) menunjukkan bahwa lumba-lumba menggunakan bunyi vokal yang mirip bunyi "ceklekan" (Inggris: Clicking sound) untuk mengetahui dengan tepat lokasi objek-objek yang mungkin menghalangi perjalanannya di dalam laut. Selain bunyi vokal itu, lumba-lumba bisa mengeluarkan bunyi seperti bersiul dan bunyi "berkuak" (Inggris: squawk). Kedua jenis bunyi ini berkenaan dengan situasi emosi lumba-lumba itu. Bunyi siulan yang tinggi nadanya lalu turun merendah menunjukkan bahwa lumba-lumba itu minta tolong karena berada dalam keadaan bahaya. Ada juga bunyi untuk memanggil lawan jenisnya untuk keperluan biologis. Bunyi lumba-lumba ini dapat merambat dengan cepat di dalam air sehingga dapat ditangkap dengan segera oleh lumba-lumba lainnya. Eksperimen yang dilakukan membuktikan bahwa lumba-lumba tidak berkomunikasi sesamanya dengan bunyi-bunyi tersebut dan kalaupun tampak bahwa lumba-lumba itu berkomunikasi dengan manusia adalah sebagai hasil respon-respon yang telah dilatihkan (conditioned responses)

Sumber: Chaer, Abdul dan Leoir Agustina. Sosiolinguistik: Pengantar Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Terkait:
Sistem Komunikasi Lebah
Sistem Komunikasi Burung